Dosen Psikologi Unisba Raih Doktor dari UI dengan Kajian Kognitif Gamers

ui1

👁️ 45 views

INFOFILANTROPI.COM, JAKARTA — Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Fanni Putri Diantina, resmi meraih gelar Doktor Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Sidang terbuka promosi doktornya berlangsung pada Jumat, 5 Desember 2025.

Dalam disertasinya yang berjudul “Non-Problematic & Problematic Gamers: Komponen Kognitif dalam Pengambilan Keputusan Bermain Game Online (Studi Berdasarkan Model Multidimensional I-PACE)”, Dr. Fanni mengkaji secara mendalam perbedaan fungsi kognitif antara problematic gamers dan non-problematic gamers. Penelitian ini menyoroti aspek kognitif yang melandasi perilaku bermain game, sebuah isu yang semakin relevan seiring berkembangnya budaya digital.

Penelitian dilakukan dalam tiga studi yang mencakup pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Studi awal menggali bias kognisi, kontrol inhibisi, craving dan urge, mekanisme coping, serta proses pengambilan keputusan.

Dua studi berikutnya memperkuat temuan melalui triangulasi data menggunakan instrumen self-report, wawancara klinis terstruktur, serta tugas kognitif modified Stroop dan Go/No-Go untuk melihat bagaimana tingkat keparahan bermain game mempengaruhi bias kognitif dan peran kontrol inhibisi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan dan perbedaan cara memaknai game online antara kedua kelompok. Meskipun problematic gamers menunjukkan kecenderungan bias kognisi, perbedaannya tidak signifikan dibandingkan non-problematic gamers.

Kedua kelompok juga mampu menahan respons impulsif, namun non-problematic gamers tetap memiliki kontrol inhibisi yang lebih baik. Tidak ditemukan perbedaan akurasi dalam tugas kognitif, dan unsur gamifikasi dalam tugas justru membuat performa beberapa peserta meningkat.

Temuan tambahan di luar kerangka I-PACE memperlihatkan bahwa hiperrealitas, self-awareness, self-determination, serta desain tugas kognitif yang menyerupai mekanisme permainan turut memengaruhi performa partisipan. Hal ini menantang asumsi klasik bahwa pemain game cenderung memiliki kontrol inhibisi rendah.

Dr. Fanni menegaskan bahwa penelitian ini bukan hanya gambaran ilmiah, tetapi juga refleksi dari dinamika psikologis generasi digital saat ini.

“Saya menemukan bahwa para gamers tidak selalu memiliki kelemahan dalam kontrol diri seperti yang sering diasumsikan. Ketika mereka dihadapkan pada tugas yang mirip dengan pengalaman bermain game, performanya justru meningkat. Ini membuka ruang pemahaman baru tentang bagaimana lingkungan digital membentuk cara mereka berpikir dan mengambil keputusan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa studi ini penting untuk mendorong pendekatan yang lebih adil dan ilmiah dalam memahami perilaku bermain game. “Bukan hanya soal membatasi, tetapi bagaimana kita membangun literasi digital, self-awareness, dan regulasi diri agar bermain game tetap sehat dan bermakna,” ujarnya.

Melalui penelitiannya, Dr. Fanni juga memberikan rekomendasi praktis berupa penguatan psikoedukasi dalam hal self-awareness, regulasi emosi, kontrol diri, penetapan tujuan, serta perilaku digital sehat.

Ia menyarankan pengembangan penelitian lanjutan dengan melibatkan kelompok non-gamers, penggunaan stimulus visual berbasis game, serta pendalaman model moderasi untuk memahami alasan mengapa problematic gamers terus bermain meski menyadari dampak negatifnya. [ ]

Dok foto: Unisba