Wamenhaj: Optimisme Petugas Penentu Sukses Penyelenggaraan Haji 2026

👁️ 6 views
INFOFILANTROPI.COM, Jakarta — Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 2026 tidak hanya ditentukan oleh sistem dan kebijakan, tetapi sangat bergantung pada semangat, optimisme, dan integritas para petugas haji. Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam apel malam Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Di hadapan para peserta pelatihan, Dahnil mengungkapkan optimismenya setelah melihat langsung antusiasme dan kesiapan para petugas. Menurutnya, para peserta diklat tahun ini memegang peran istimewa karena akan menjadi bagian dari babak baru dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
“Semangat yang saya lihat malam ini luar biasa. Saudara-saudara bukan hanya petugas, tetapi pelaku sejarah. Ini adalah awal dari wajah baru penyelenggaraan haji Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa haji 2026 menjadi momentum penting karena merupakan penyelenggaraan haji pertama yang sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sebagai lembaga baru. Dengan tanggung jawab besar tersebut, Dahnil menilai kekompakan, profesionalisme, dan rasa tanggung jawab petugas menjadi fondasi utama dalam memberikan layanan terbaik bagi jemaah.
Momentum apel malam yang bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj juga dimanfaatkan Wamenhaj untuk mengajak para petugas melakukan refleksi spiritual. Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Isra Mikraj harus menjadi landasan moral dalam menjalankan tugas pelayanan.
“Isra Mikraj mengajarkan kita tentang perjalanan iman, disiplin salat, dan pengabdian. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa tugas melayani jemaah adalah bagian dari ibadah,” jelasnya.
Dalam arahannya, Dahnil turut menyinggung komitmen Indonesia terhadap nilai-nilai kemanusiaan global, termasuk dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Ia menegaskan bahwa semangat kemanusiaan tersebut harus tercermin dalam cara petugas melayani jemaah—dengan empati, keadilan, dan kepedulian tanpa diskriminasi.
Pelatihan PPIH yang dijalani saat ini disebutnya sebagai pelatihan paling intensif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan pola disiplin tinggi dan pendekatan semi-militer, pelatihan ini dinilai mampu membentuk karakter petugas yang tangguh, solid, dan bebas dari ego sektoral.
“Saya melihat tidak ada lagi sekat jabatan. Kita semua hadir sebagai satu tim, satu keluarga besar petugas haji. Amanah yang kita emban sangat besar dan tidak boleh dikhianati,” tegasnya.
Untuk menggugah kesadaran para peserta, Dahnil membagikan kisah seorang jemaah asal Lampung Selatan bernama Tobroni yang harus menunggu selama 25 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Demi memenuhi panggilan ke Tanah Suci, Tobroni menjual rumah dan sawahnya, bahkan rumah terakhirnya dilepas untuk melunasi biaya haji, sehingga sepulang dari Makkah ia harus tinggal bersama anak-anaknya.
“Di balik setiap jemaah, ada pengorbanan besar, doa panjang, dan harapan yang dititipkan kepada kita. Tidak pantas jika amanah sebesar itu kita khianati,” ujar Dahnil dengan nada penuh penekanan.
Ia menegaskan bahwa setiap petugas haji memikul tiga amanah sekaligus: amanah dari Allah SWT untuk melayani tamu-Nya, amanah dari jutaan jemaah, serta amanah dari negara untuk memastikan ibadah haji terlaksana secara aman, tertib, dan bermartabat.
Menutup arahannya, Dahnil mengajak seluruh petugas untuk menjaga kebersamaan, menyingkirkan perbedaan latar belakang, dan menyatukan tekad demi menghadirkan penyelenggaraan haji 2026 yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menyampaikan optimisme Presiden Republik Indonesia terhadap kesiapan para petugas, seraya berharap seluruh rangkaian pelatihan dapat diselesaikan dengan baik hingga akhir Januari 2026.
