Spirit dari Bandung untuk Palestina: Kisah Perjalanan KH. Roinul Balad ke Masjidil Aqsha dalam Kajian Ramadhan di Ponpes Al Huda

foto: dok.ponpes al huda
INFOFILANTROPI.COM, BANDUNG – – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Ahmad Maryam di kompleks Pondok Pesantren Al Huda Pasir Jambu, Bandung, ketika KH. Muhammad Roinul Balad membagikan pengalamannya mengunjungi Masjidil Aqsha. Kajian keislaman bertema “Spirit Journey To Aqsha” ini diselenggarakan bersamaan dengan kegiatan buka puasa bersama pada hari Minggu sore (16/3/2025)
Acara yang dihadiri oleh seluruh santri, pengurus pesantren, dan sejumlah tamu undangan ini menjadi momen yang bermakna di bulan Ramadhan. KH. Roinul Balad, yang merupakan anggota Dewan Dakwah Jawa Barat, tampak bersemangat menyampaikan materi tentang pentingnya mempertahankan Masjidil Aqsha di tengah situasi konflik yang terjadi di Palestina.
“Salah satu alasan kenapa kita harus membebaskan Masjid Al Aqsha adalah karena disitulah (Masjid Al Aqsa) akan dimulainya Peradaban Dunia,” terang KH Roin kepada para hadirin yang menyimak dengan seksama.
Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan tentang keutamaan Masjidil Aqsha sebagaimana disampaikan dalam hadits Rasulullah SAW, “Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397).
KH.Roinul Balad, yang baru saja kembali dari kunjungannya ke Palestina, menggambarkan kondisi aktual Masjidil Aqsha yang berada di bawah pengawasan ketat. Menurut penuturannya, untuk mencapai bagian dalam masjid, pengunjung harus menempuh jarak sekitar dua kilometer dari kompleks masjid. Tidak hanya itu, proses pemeriksaan keamanan oleh tentara Israel juga menambah tantangan bagi peziarah Muslim yang ingin beribadah di tempat suci tersebut.
“Kalau sekarang kita hanya diam dengan kondisi Masjidil Aqsha sekarang, maka Masjidil Aqsha akan dikuasai oleh orang kafir dan kaum muslimin tidak lagi bisa shalat disana,” tegasnya dengan nada prihatin.
Selain aspek historis dan religius, KH. Roinul juga membagikan informasi arsitektural yang menarik tentang Masjidil Aqsha. Beliau menjelaskan bahwa di bawah batu Shakrah yang berada di bawah kubah emas terdapat gua arwah yang sering digunakan sebagai tempat shalat berjamaah.
Momen paling berkesan dari ceramah KH. Roinul adalah ketika beliau menceritakan pertemuannya dengan seorang syeikh lokal selama kunjungannya ke Masjidil Aqsha beberapa bulan lalu. “Syeikh tersebut berpesan, agar lebih banyak mengajak pemuda-pemuda Indonesia ke Masjidil Aqsha. Kita akan membela dan mempertahankannya. Jangan hanya sekedar jalan-jalan,” ungkapnya menyampaikan pesan syeikh tersebut.
Pesan ini seakan menjadi seruan bagi generasi muda Muslim Indonesia untuk tidak hanya mengenal Masjidil Aqsha sebagai destinasi wisata rohani, tetapi juga memahami signifikansi historis dan spiritualnya dalam peradaban Islam.
Kajian ini menjadi refleksi mendalam bagi para santri dan hadirin tentang peran umat Islam Indonesia dalam solidaritas global terhadap perjuangan rakyat Palestina mempertahankan tempat-tempat suci Islam. Di tengah bulan Ramadhan yang penuh berkah, ceramah ini mengingatkan pada nilai-nilai persaudaraan Islam yang melampaui batas-batas geografis.
Selama hampir satu jam, KH. Roinul memaparkan berbagai aspek sejarah, keistimewaan spiritual, dan kondisi terkini Masjidil Aqsha. Para santri dan hadirin tampak antusias mengikuti kajian dengan mengajukan beberapa pertanyaan di sesi tanya jawab.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Huda dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program Ramadhan pesantren yang bertujuan memperkaya wawasan santri tidak hanya dalam hal ibadah ritual tetapi juga kepedulian terhadap isu-isu global umat Islam.
“Kami berharap para santri tidak hanya fokus pada pengembangan keilmuan personal, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk perjuangan saudara-saudara kita di Palestina,” ujarnya.
Kajian “Spirit Journey To Aqsha” ini ditutup dengan doa bersama untuk perdamaian di Palestina dan pembebasan Masjidil Aqsha. Tepat ketika azan Maghrib berkumandang, seluruh hadirin berkumpul untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama.
Dalam suasana kebersamaan dan kekhusyukan, para santri berbagi hidangan buka puasa sederhana namun penuh berkah. Acara ini menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dan dukungan spiritual bagi saudara seiman di tanah Palestina, khususnya di bulan suci Ramadhan yang mengajarkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial.
Kegiatan serupa direncanakan akan diadakan secara rutin selama bulan Ramadhan di Pondok Pesantren Al Huda, dengan menghadirkan pembicara-pembicara yang memiliki wawasan luas tentang berbagai isu keislaman kontemporer.[ ]