Arcamanik Jadi Percontohan Program Zero Waste Unisba

👁️ 18 views
INFOFILANTROPI.COM, BANDUNG — Ditegaskan sebagai solusi konkret pengelolaan sampah di Kota Bandung, dengan Kecamatan Arcamanik ditetapkan sebagai pilot project di tingkat kota, Program Zero Waste Universitas Islam Bandung (Unisba) diharapkan menjadi model untuk Jawa Barat secara umum. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Konsolidasi Penanganan Sampah yang dilaksanakan di Aula Lantai 4 Dispora Jawa Barat, Kompleks Jabar Sport Centre, Arcamanik, Kota Bandung, pada Kamis (4/3/2026).
Unisba menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang diundang dalam forum strategis tersebut. Dari Unisba hadir Wakil Rektor Bidang Alumni dan Kerja Sama (Alkerma), Prof. Dr. Ratna Januarita, S.H., LL.M., M.H., tim LPPM, Tim Zero Waste, serta dosen Fakultas Syariah yang turut memperkuat aspek pemberdayaan dan ekonomi sirkular dalam program ini.
Rapat ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Camat Arcamanik, empat lurah se-Kecamatan Arcamanik, serta seluruh Ketua RW yang berjumlah 54 RW.
Dalam arahannya, Sekda Jabar menegaskan lahirnya komitmen bersama lintas unsur untuk menjadikan Arcamanik sebagai wilayah percontohan penyelesaian sampah berbasis kolaborasi.
“Hari ini, alhamdulillah, kita sudah punya komitmen bersama, antara kami sebagai inisiator, para tokoh, kemudian juga dari pemerintah provinsi, pemerintah kota, Pak Camat, para Lurah yakni ada empat Lurah, dan seluruh Ketua RW se-Kecamatan Arcamanik, ada 54 RW. Kita punya komitmen yang sama bahwa Kecamatan Arcamanik ini akan kita jadikan pilot project bagaimana kita menyelesaikan sampah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat dua pendekatan utama yang dijalankan secara simultan. Pertama, pendekatan rekayasa atau teknologi. Dalam pendekatan ini, Unisba menghadirkan inovasi Reaktor Plasma Dingin yang telah terpasang di Living Laboratory Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Berbudaya, Arcamanik.
Saat ini, teknologi tersebut tengah diuji coba sebagai solusi pengolahan sampah berbasis teknologi yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Kedua, pendekatan social engineering berbasis masyarakat untuk mendorong zero food waste atau pengurangan sampah makanan dari sumbernya.
“Dua kolaborasi ini, antara teknologi dan rekayasa sosial masyarakat, kita harapkan ke depan sampah bukan lagi menjadi masalah, tapi sampah menjadi berkah, sampah menjadi rezeki. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengubah mindset masyarakat tentang sampah ini,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Alkerma menyampaikan bahwa Program Zero Waste Unisba memiliki tiga pilar utama, yakni pengembangan reaktor plasma dingin, pengolahan sampah organik (food waste), serta pendekatan social engineering untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan berjalan optimal tanpa partisipasi warga dalam memilah sampah sejak dari rumah. Karena itu, social engineering menjadi kerja bersama agar perubahan benar-benar dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang.
Menurutnya, perubahan memang harus berawal dari diri sendiri. Ia pun mengutip pesan dai nasional, Aa Gym, yang dinilainya relevan dengan gerakan pengelolaan sampah.
“Seperti yang pernah disampaikan Aa Gym, kita mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang juga. Filosofi itu yang bisa kita pegang bersama,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Menurutnya, keberadaan alat pengelolaan sampah di Arcamanik serta kehadiran Sekretaris Daerah menjadi momentum penting bagi wilayah tersebut untuk menjadi pelopor perubahan.
“Karena lokasinya di Arcamanik dan mendapat perhatian khusus, tentu kita berharap Arcamanik bisa menjadi agen perubahan. Mudah-mudahan Kecamatan Arcamanik dapat menjadi model bagi kecamatan lainnya,” katanya.
Prof. Ratna juga menyampaikan kesiapan Unisba untuk menerjunkan sekitar 500 mahasiswa secara bertahap guna melakukan pendampingan dan pemetaan kondisi lapangan.
“Insyaallah, sekitar 500 mahasiswa akan turun secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Semoga dengan semangat ini kita bisa mengubah sampah menjadi berkah bagi kita semua. Apalagi menjelang Ramadan, semoga ini menjadi bagian dari keberkahan untuk kita bersama,” tuturnya.
Selanjutnya, Person in Charge Social Engineering Tim Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., menjelaskan bahwa tahap awal akan dimulai dengan needs assessment melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga untuk memetakan kondisi pengelolaan sampah di masing-masing RW.
Program ini menargetkan transformasi pengelolaan sampah di 54 RW di Kecamatan Arcamanik secara bertahap, mulai dari pemetaan, edukasi, pelatihan, hingga evaluasi.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Arcamanik diharapkan menjadi model kawasan pengelolaan sampah terpadu yang dapat direplikasi di Kota Bandung dan wilayah lain di Jawa Barat. [ ]
Dok foto: Unisba
